Arkeologi UNJA Buka Ruang Diskusi tentang Cagar Budaya dan Pariwisata

Permasalahan yang kian melarut dalam pelestarian dan pemanfaatan situs-situs arkeologi menjadi objek wisata, seperti Situs Muaro Jambi dan Situs Benteng kolonial di tembesi, mendorong Prodi Arkeologi Unja untuk menyelanggarakan forum diskusi. Forum ini berbentuk  Diskusi Publik dengan tema “Memahami Lebih Dekat Model Pemanfaatan Cagar Budaya Sebagai Objek Parawisata di Provinsi Jambi”Diskusi Publik

Forum diskusi ini menjadi tempat untuk tukar pikiran, menyamakan visi misi serta memahami Pelestarian Cagar Budaya dan permasalahannya. Hal tersebut dianggap dapat menstimulasi peserta diskusi; Dosen, Mahasiswa, Stakeholder terkait dan masyarakat umum untuk lebih memahami dan peduli terhadap wariasan budaya yang dijadikan objek wisata.  Sayangnya dikarenakan halangan, pihak dari Dinas Parawisata tidak bisa menghadiri forum ini. Namun Pak Muhammad Ramli selaku kepala Balai Pelestarian Cagar budaya Jambi menghadiri acara ini. Begitu juga Mahasiswa dari UNBARI, Mahasiswa dari IAIN, Dosen dari IAIN, masyarakat dari desa Muaro Jambi.

Diskusi Publik dilaksanakan di Museum Sigenjai pada hari selasa 20 Desember 2016 sekitar pukul 09:00 AM yang diawali dengan tarian Sekapur Sirih. Dengan apresiasinya, acara ini dibuka oleh Pak Yusdi Anra selaku ketua prodi Arkelogi Unja, Pak Yusuf Martum yang mewakili kepala museum Sigenjai dan Pak Muhammad Ramli selaku kepala Balai Pelestarian Cagar budaya Jambi. Diskusi publik ini telah menampung pendapat dari berbagai elemen; stakeholder, pelestari, pelindung,  pengunjung, pedagang dan penyewa  sepeda di Candi Muaro Jambi. Pendapat dari mereka membentuk kesepakatan, sebagai berikut; 1) Adanya kajian pelestarian Arkeologi, AMDAL, serta kajian Antropologi sosial; 2) Meningkatkan kerja sama antara Stakeholder terkait; 3) Perlu adanya publikasi dan sosialisasi terhadap masyarakat; 4) Adakan aturan tegas seperti perda, dan bukan sanksi pidana; 5) Mewujudkan zonasi pada situs. Dari semua pendapat dan kesepakatannya, diharapkan  menjadi gerbang menuju pelestarian dan pemanfaatan yang lebih baik untuk situs di DAS Batanghari, sehingga situs di DAS Batanghari tidak terancam dan dapat dirasakan manfaatnya dari berbagai pihak.

Tim Redaksi

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *