Awal hubungan Kerajaan Melayu dengan Cina

Oleh: M. Sobar Alfahri
Program Studi Arkeologi, Universitas Jambi
e-mail: Alfahri666@gmail.com

Abstrak

Kitab Dinasti Tang mengemukakan kedatangan utusan dari Melayu di Cina pada tahun 644-645M. Keterangan ini dapat menjadi indikasi mengenai hubungan Kerajaan Melayu dengan Cina. Hanya saja hubungan tersebut belum dapat dipastikan sejak kapan berlangsung. Namun Kan-to-li yang mengirim utusan ke Cina pada abad ke 5-6M, diidentifikasikan sebagai Melayu oleh J.L Moens.

Pada tahun 685M Kerajaan Melayu ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan beragama budha yang berhasil menjalin hubungan dagang dengan Cina. Namun pada abad ke 11 Kerajaan Melayu bangkit dengan memanfaat kondisi Kerajaan Sriwijaya yang lemah. Berikutnya, muncul ketarangan mengenai  pengiriman utusan ke Cina dari Kerajaan Melayu.

Kata Kunci: Melayu, Cina, Pengiriman, Sumatera, Kan-to-li.

Pendahuluan

Indonesia pernah diumpamakan sebagai jembatan antara benua Asia dan Australia, karena letaknya yang berada di antara kedua benua tersebut. Kepulauan Indonesia pada jaman kuna, menjadi jalur perdagangan antara dua pusat perdagangan di Asia. Sumatera sebagai salah satu pulau di Indonesia yang terletak di bagian barat, berperan penting dalam perdagangan. Pulau ini menjadi pulau yang strategis dalam menjalin hubungan untuk peradaban di Asia, terutama pada Cina dan India. Sumberdaya alam yang berlimpah dan cukup diminati, menjadi penyebab untuk terjadinya aktifitas perdagangan. Kapur barus, damar dan Gaharu dapat ditemukan di pulau Sumatera pada saat itu. Berdasarkan sumber tertulis dari Cina, Kapur barus, Damar dan Gaharu diminati oleh Cina. Selain itu, Emas yang menjadi komiditi menarik di pulau ini, membuat pulau ini dikenal dengan nama Swarnadvipa yang berarti “Pulau Emas”.

Perdagangan yang dilakukan Cina di negeri asing sebenarnya sudah berlangsung berabad-abad sebelum masehi, yaitu perdagangan di Asia Barat. Saat itu, Asia Tengah menjadi jalurnya. Cina yang menanam kekuasaannya di sebuah wilayah yang berada di Asia Tenggara yaitu Tongkin pada abad ke 2, diperkirakan belum melakukan dagang di Asia Tenggara. Dalam hal ini, berdasarkan sumber-sumber Cina Groenveldt berpendapat bahwa pengetahuan Cina terhadap Asia Tenggara tidak membuat Cina langsung mengadakan dagang di negara-negara di Asia Tenggara. Pengetahuan negara di Asia Tenggara selain daerah kekuasan mereka, hanya mereka peroleh dari pihak lain.

O.W Woltres berpendapat, bukti-bukti menunjukan pelayaran niaga melintasi Laut Cina Selatan untuk pertama kalinya terjadi antara abad 2 dan 3 M. Namun perjalanan 2 orang pendeta agama budha melalui pelayaran, yaitu Fa Hsien dan Gunavarman menjadi bukti yang pasti mengenai pelayaran antara Cina dan Indonesia, setidaknya terjadi pada abad 5 M. Bukti itu didukung dengan berita mengenai pelayaran orang-orang Indonesia ke Cina, yaitu berita mengenai datangnya utusan dari Ho-to-lan sebuah negeri yang berada di Shepo (Pulau Jawa). Utusan dari Ho-lo-tan datang pada bulan keempat tahun 430M dengan membawa kain dari India.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Sumatera cukup berperan dalam perdagangan Asia dikarenakan sumberdaya alamnnya. Hal tersebut membuat pemukiman  di sana berkembang. Perdagangan taraf Asia yang berlangsung di sana, menjadi dorongan untuk berdirinya Kerajaan-kerajaan. Sumber-sumber dari Cina dan Arab menyebutkan bahwa sumberdaya Alam di Sumatera menjadi komiditi dari kerajaan yang terdapat di sana.

Pembahasan

Letak yang strategis dan sumberdaya alam yang tersedia, menjadi dorongan untuk Cina melakukan perdagangan di pulau Sumatera. Umumnya hubungan dagang antara berbagai kerajaan di Indonesia dan Cina dapat disimpulkan dari kedatangan utusan-utusan mereka. Pada Abad ke 5-6 terdapat dua Kerjaan di Nusantara yang ingin mengembangkan perdagangan dengan Cina. Satu diantaranya ialah Ho-lo-tan yang mengirim utusannya ke Cina  pada tahun 430 seperti yang telah dikemukan di atas. Lalu kerajaan lainnya bernama Kan-to-li.

Kerajaan Kan-to-li mengirim utusannya ke cina sejak tahun 441, dan berhenti pada tahun 455.  Pada tahun 502 kerajaan ini kembali mengirim utusannya dengan membawa wewangian dan obat-obatan. Pengiriman utusan dari Kan-to-li juga terjadi pada tahun 518, 520, 560 dan 563. Menurut Wolters Kan-to-li merupakan kerajaan yang  mantap dan penting dalam perdagangan di Asia. Wolters juga berpendapat perdagangan antara Kan-to-li dan Cina merupakan hubungan dagang yang sudah kukuh.

Pengiriman utusan dari Kan-to-li yang terjadi pada abad ke 5-6 diperoleh dari di kitab Dinasti Liang. Dalam kitab sejarah Dinasti Ming, San-Fo-sai dahulu disebut Kan-to-li. Menurut G Ferrand Kan-to-li yang berada di berita Dinasti Liang sama dengan Kendari yang terdapat di Ibn Majid (1462M). Lalu G Ferrand menafsirakan Kan-to-li berada di sumatera dengan pusatnya di Palembang mengingat Kan-to-li  juga di sebut San-fo-tsi yang didentifikasikan dengan Sriwijaya (G Ferrand, 1919: 238-241). Sementa J.L Moens memiliki pendapat bahwa yang dimaksud Kan-to-li ialah Melayu, berdasarkan hasil identifkasi Singkil Kendari dalam berita Ibn Majid dengan Kan-to-li dalam kitab Dinasti Liang dan Ming (J.L Moens ,1937: 380-381). Secara umum para pakar berpendapat bahwa Kan-to-li berada di pantai selatan sumatara, yang kekuasannya meliputi Palembang dan Jambi.

Berikutnya, Kitab Dinasti Tang mengemukakan kedatangan utusan dari Mo-lo-yeu di Cina pada tahun 644-645. Nama Mo-lo-yeu dapat diidentifaksikan dengan Melayu yang letaknya di pantai timur selatan yang berpusat di jambi. Namun sekitar tahun 672M , I-tsing seorang pendeta cina melakukan perjalanan dari Cina ke India. Ketika dalam perjalanan, I-tsing bersinggah di Sriwijaya selama enam bulan.  Kemudian ia berlayar menuju Melayu (Mo-lo-you) dan tinggal di sana. Setelah 2 bulan di Melayu, ia melanjutkan perjalananya ke India. Pada tahun 685 dalam perjalanan I-tsing dari India ke Cina, ia kembali berkunjung ke Melayu yang ternyata saat itu telah menjadi bagian Sriwijaya.

Keterangan dari i-tsing di atas dapat disimpulkan bahwa sekitar 685 Sriwijaya telah menaklukan Melayu dan memperluas kekuasannya. Sejak saat itu dalam waktu yang lama berita Cina tidak lagi menyebutkan nama Melayu. Kemudian menurut  N.J Krom prasasti Karang Brahi yang diperkirakan tahun 686M, menjadi indikasi atas penaklukkan Melayu oleh Sriwijaya (Krom, 1931: 117).  Penaklukan yang dimaksud menghasilkan  hubungan maharaja terhadap raja pemberi upeti sesuai dengan Kerajaan Sriwijaya yang memerlukan pendapat dari pajak dan upeti (Uka Tj. Sasmita, 1992 : 315)

Kata Sriwijaya merupakan hasil transliterasi dari Fo-shie atau Shih-le-fo-shie. Berdasarkan prasastinya, Kerajaan Sriwijaya diduga bertempat di kota Palembang. Prasasti Kedukan Bukit yang angka tahunnya 605 Saka atau 682 M, menjadi prasasti tertua dari Sriwijaya yang ditemukan di Palembang. Kemudian dalam tulisanya pada tahun 689 dan 692,  I-tsing menunjukan kerajaan Sriwijaya sebagai pusat ajaran agama Budha. Di negeri ini terdapat lebih dari seribu pendeta yang belajar agama Budha seperti yang terdapat di India. I-tsing seolah menyarankan agar belajar setahun atau dua tahun di Sriwijaya jika ingin belajar ke India untuk memahami kitab Budha di sana. Lalu selain dikenal sebagai pusat ajaran agama Budha, Sriwijaya juga dikenal dalam dunia perdagangan. Hal tersebut tentu berkat wilayahnya yang berada di Sumatera. Terlebih lagi kekuasanya meliputi Selat Malaka. Kemudian demi mempertahankan hubungan dagang dengan Cina, Sriwijaya tidak keberatan untuk mengakui Cina sebagai negara yang berhak menerima upeti.

Pada tahun 853 dan 871 terjadi pengirman misi dari Chan-pi ke cina. Kitab Dinasti Sung memberikan informasi bahwa Maharaja San-fo-tsi (Sriwijaya) tinggal di Chan-pi yang diidentifikasikan sebagai Jambi. Para sejarawan dan arkeolog sepakat bahwa San-fo-tsi merupakan sebutan untuk Sriwijaya ketika ibukotanya berada di Jambi (Bambang Budi Utomo, 1992: 181). Selanjutnya, dalam kitab dinasti Sung terdapat riwayat pengiriman utusan ke Cina oleh Sriwijaya pada abad ke-10.

Memasuki pertengahan abad ke 11 M, Sriwijaya diserang oleh cola dari india selatan. Sriwijaya yang lemah karena serangan dari Cola, dimanfaatkan oleh suatu kelompok pemukiman Melayu untuk bangkit kembali. Hingga akhirnya pada abad ke 11 Chanpi atau Jambi dikuasai oleh Melayu sebagai ibu kotanya. Sementara itu San-fo-tsi masih identik dengan Jambi. Selanjutnya pengirman utusan dari Jambi ke Cina terjadi pada tahun 1079M, 1082M, 1084 M, 1090 M dan 1094 M. Pengiriman tersebut bermaksud untuk mendapatkan pengakuan dari Cina atas kekuasan Kerajaan Melayu di bagian Sumatera. Sampai akhirnya pada tahun 1156-1178 M pengakuan dari cina muncul, yang menganggap penguasa Jambi sebagai Raja San-fo-tsi.

Keterangan di atas mungkin dapat dikatikan dengan Gong Perunggu, yaitu artefak yang ditemukan di Candi Muaro Jambi, lebih tepatnya di Candi Kembarbatu. Temuan tersebut  memiliki inskripsi yang ditulis dengan bahasa dan aksara Cina, dengan angka tahun 1231 Masehi. Merupakan persembahan untuk penguasa Jambi dari pejabat tinggi di Cina pada masa Dinasti Sung. Selain itu, di kawasan Candi Muaro jambi dan DAS Batanghari juga ditemukan pecahan keramik dari masa Dinasti Sung.

Menurut J.G de Casparis Sriwijaya dan Melayu merupakan dua nama yang berbeda dari satu kerajaan. Eksistensi melayu sebelum 680M, sementara Sriwijaya dari mulai tahun itu sampai pertengahan atau akhir abad ke 11M. Lalu Melayu kembali berkuasa dari abad ke-11 M sampai sekitar tahun 1400M. Mengenai Kan-to-li, Wolters berpendapat bahwa Kan-to-li merupakan dua kerajaan yang memiliki peran penting terkait perkembangan aktifitas dagang di Indonesia pada abad ke 5. Seperti yang telah dikemukakan di atas, Wolters juga berpendapat perdagangan antara Kan-to-li dan Cina merupakan hubungan dagang yang sudah kukuh. Di samping itu, secara umum para pakar menempatkan Kan-to-li berada di Sumatera yang kekuasanya meliputi Jambi dan Palembang.

Selanjutnya nama Sriwijaya merupakan hasil identifikasi dari berita Cina dan prasasti sebagai kerajaan di Sumatera, yang pada masanya telah menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Dengan begitu secara sederhana dapat disimpulkan bahwa hubungan Kerajaan Melayu dengan Cina yang berlangsung pada abad ke-11 M, tidak terlepas dari peran Kerajaan Sriwijaya yang sebelumnya telah menjalin dan mempertahankan hubungan perdagangan dengan Cina. Atau juga dapat disimpulkan merupakan kesinambungan jalinnya hubungan antara Sumatera (khususnya Jambi) dan Cina yang sebenarnya sudah terjadi pada abad ke 5.

Kesimpulan

Pulau Sumatera merupakan pulau yang strategis dan memiliki sumberdaya alam yang diminati Cina. Pada abad ke 5-6 di Sumatera terdapat satu kerajaan yang menjalin hubungan dagang dengan Cina, yaitu Kan-to-li. Wolters berpendapat bahwa Kan-to-li merupakan dua kerajaan yang memiliki peran penting terkait perkembangan aktifitas dagang di Indonesia. Menurut G ferrand Kan-to-li berpusat di palembang karena Kan-to-li juga disebut San-fo-tsi yang didentifikasikan dengan “Sriwijaya”. Di samping itu, J.L Moens berpendapat yang dimaksud Kan-to-li itu adalah “Melayu”. Secara umum para pakar berpendapat bahwa Kan-to-li berada di pantai selatan sumatara, yang kekuasannya meliputi Palembang dan Jambi.

Melayu pertama kali disebutkan dalam kitab dinasti Tang, sebagai nama yang mengirimkan utusan pada tahun 644-645 M. Namun sekitar tahun 685 M berdasarkan keterangan I-tsing, Melayu telah menjadi bagian dari Sriwijaya. Sejak saat itu, dalam waktu yang lama tidak ada lagi berita Cina yang menyebutkan nama Melayu.

Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama budha dan berhasil menjalin hubungan dagang dengan Cina. Namun memasuki pertengahan abad ke 11, serangan dari cola membuat Sriwijaya menjadi lemah. Hal itu dimanfaatkan oleh Melayu untuk bangkit. Sampai akhirnya Melayu menjadikan Jambi sebagai ibukotanya, dan mengrim utusannya ke Cina yang saat itu telah memasuki masa Dinasti Sung. Berkat hubungan dan pengiriman utusan, kekuasan Melayu mendapatkan pengakuan dari Cina. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa hubungan Melayu dan Cina pada abad ke 11 merupakan kesinambungan jalinnya hubungan antara Sumatera (khususnya Jambi) dan Cina yang telah dipertahankan oleh Kerajaan Sriwijaya.

 

Daftar Pustaka

Isuwan, Budi dan Bambang Budi Utomo. September 2014. Menguak Tabir Dharmasraya. Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau

Utomo, Bambang Budi. 2011. Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia di Batanghari. Dinas Kebudayaan dan Parawisata

Woltres, OW. September 2011. Kemaharitiman Sriwijaya dan Perniagaan Dunia.

Poespoenogoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pustaka

Tim. Selayang Padang Kawasan Percandian Situs Muaro Jambi. Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *