Temuan Artefak Emas di Kawasan Candi Muaro Jambi

Abstrak

Pulau Sumatera yang biasa disebut sebagai Swarnadwipa (Pulau Emas) atau Swarnabhumi (Tanah Emas) berkaitan erat dengan kawasan Candi Muaro Jambi sebagai pusat Kerajaan Melayu Kuno abad ke-7 – 14M. Candi Muaro Jambi memiliki kekayaan temuan artefak emas dalam berbagai bentuk dan fungsi yang menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian penting dalam interaksi budaya dan perkembangan peradaban di Sumatera, khususnya Jambi. Kekayaan temuan artefak yang terbuat dari emas tersebut berupa  lempengan emas, koin uang logam, serta berbagai bentuk perhiasan yang memiliki keunikannya masing-masing.

Kata kunci : artefak, emas, melayu kuno, muaro jambi

Pendahuluan

Artefak ialah benda yang berasal dari alam seperti tanah liat, batu-batuan, besi, logam, dan emas yang diubah oleh tangan manusia sehingga menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan. Sebagian dapat dipindahkan tanpa merusak atau menghancurkan bentuknya (Relik). Terdapat bermacam-macam bentuk artefak di Kawasan Percandian Muaro Jambi, seperti arca berbahan batu, wadah berbahan keramik ataupun emas, dan berbagai bentuk perhiasan beserta uang koin berbahan emas.

Menurut laporan pendeta I-tsing koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan melayu sewaktu ia melakukan perjalanan ke Sumatera pada abad Ke-7. Saat itu daerah kekuasaan Kerajaan Melayu sangat kaya raya akan emasnya, seperti yang sering disebutkan dalam catatan kuno yang mengatakan bahwa Pulau Sumatera adalah Swarnadwipa yang berarti Pulau Emas. Bukti-bukti kejayaan banyak di temukan di Kawasan Percandian Muaro Jambi, sebuah kawasan percandian seluas 7,5 KM di tepi sungai Batanghari. Kawasan ini merupakan tinggalan Kerajaan Melayu Kuno yang menganut agama Buddha. Dalam ajaran Buddha emas bermakna sinar, iluminasi dan keabadian. Emas dapat digunakan sebagai alat tukar, perhiasan, dan banyak di gunakan untuk kegiatan ritual keagamaan.

Artefak Emas di Candi Muaro Jambi

Swarnadwipa (Pulau Emas) atau Swarnabhumi (Tanah Emas) adalah sebutan yang sangat melekat pada Pulau Sumatera. Sebutan tersebut berkaitan erat dengan kekayaan emas yang terkandung di Jambi sebagai pusat Kerajaan Melayu Kuno. Saat ini Artefak Emas yang dietmukan di Kawasan Candi Muaro Jambi telah menjadi koleksi Museum Candi Muaro Jambi. Artefak emas di sana ada yang diperoleh dari hasil penelitian, kegiatan pelestarian, maupun temuan masyarakat sekitar. Berikut ragam bentuk Artefak Emas yang di telah ditemukan :

  1.  Lempengan

Sepuluh buah lempengan emas ditemukan di Candi Gumpung dengan ukuruan yang ​bervariasi. Sementara di Candi Tinggi ditemukan satu buah lempengan emas. Semua lempengan tersebut berbentuk persegi penjang dengan permukaan polos (tidak memilki hiasan).

  1. Lempeng Bertulis

Ditemukan dua buah Lempeng Bertulis di Candi Muaro Jambi dengan tulisan Jawa Kuno yang berasal dari abad ke-9 hingga permulaan abad ke-10 (Boechari, 1984). Salah satu lempengan ditemukan di Candi Tinggi pada tahun 1998. Sementera lempengan lainnya ditemukan di Candi gedong I pada tahun 1998 yang merupakan gabungan antara emas kuning dan emas putih.

3. Cepuk

Cepuk merupakan wadah bertutup berukuran kecil, dengan ukuran tutup sama besar atau mendekati ukuran mulut wadah yang menjadi kesatuannya. Terdapat tiga buah cepuk yang ditemukan di Candi Gumpung  dalam keadaan yang utuh.

  1.  Koin Emas

Koin merupakan alat pembayaran dalam sistem perekonomian. Nilainya ditentukan oleh berat dan jenis bahan yang dipakai. Identitas di setiap koin biasanya terdapat pada permukaan, yaitu seperti; angka tahun, nama negara, raja atau kerajaan yang mengeluarkannya, lambang, gambar yang berhubungan dengan negara dijamannya. Koin yang ditemukan di Kawasan Candi Muaro Jambi berjumlah 6 berbahan emas. Dua diantaranya ditemukan di Candi Gumpung dan Candi Astano. Pada salah satu sisi koin terdapat hiasan bunga lotus dan sisi lainnya terdapat tulisan Jawa Kuno dengan ukuran yang bervariasi.

  1. Perhiasan

Perhiasan merupakan benda yang di tambahkan pada objek dengan maksud untuk meningkatkan keindahannya. Biasanya digunakan oleh wanita sebagai atribut mempercantik diri. Di kawasan Candi Muaro, ditemukan lima belas buah perhiasan emas atau bagian-bagiannya dengan berbagai bentuk. Sebagian perhiasan tersebut ditemukan oleh warga sekitar pada tahun 1996, tahun 2002 dan tahun 2006. Salah satu perhiasan emas ditemukan di Candi Gedong II.

  1. Kelopak Bunga

Di kawasan Candi Muaro Jambi juga ditemukan Artefak emas berupa kelopak bunga. Kelopak bunga ini memiliki berat 1,14 gram dengan diameter 2,8cm.

Pembahasan 

Kawasan pesisir timur Pulau Sumatra dilihat dari sudut pandang geohistoris memiliki posisi yang sangat strategis karena terletak di dalam jalur pelayaran antara India dan Cina. Kawasan ini menjadi tempat persinggahan para pedagang dari barat ke timur serta sebaliknya. Pesisir timur Pulau Sumatera yang langsung berhadapan langsung dengan selat Bangka sebagai salah satu jalur penting bagi pelayaran telah pula menginggalkan jejak masa lalunya bukan hanya dalam bentuk tinggalan yang bernapaskan keagamaan melainkan juga tinggalan-tinggalan yang bersifat keseharian. Berdasarkan tinggalannya dapat disimpulkan bahwa wilayah pesisir timur Pulau Sumatera sejak abad VII M telah dihuni oleh masyarakat yang menetap dengan tingkat hunian yang cukup padat, serta telah mengenal spesialisasi dalam berbagai bidang keahlian salah satunya ahli dalam teknik pengecoran logam. Dengan keahlian yang mereka miliki maka kekayaan emas yang terkandung dalam bumi Suwarnadwipa dapat mereka olah kedalam bentuk-bentuk yang dapat digunakan untuk peralatan seharihari maupun peralatan untuk ritual keagamaan yang dapat mereka tukarkan dengan barang-barang yang di bawa oleh pedagang dari kawasan Asia Tenggara Daratan.

Motivasi ekonomi yang muncul dalam kegiatan masa itu adalah pelayaran niaga dengan ciri-ciri dominan yaitu dilakukan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dari pulau yang satu ke pulau yang lain dengan membawa sejumlah dagangan tertentu dalam volume yang kecil. Karena barang yang di bawa tidak terlalu banyak dan tidak berorientasi pada investasi modal dan keuntungan, tidak mengherankan jika barang-barang yang dibawa hanya barang-barang yang mahal (mewah) seperti Emas yang dijual atau dipersembahkan kepada kelompok penguasa dan dari kelas yang tinggi. Tidak hanya untuk di perdagangkan, emas turut digunakan sebagai perhiasan, peralatan ritual keagamaan, maupun tulisan bermakna (inskirpsi) pada lempengan-lempengan emas dalam kerajaan termasyhur karena kekayaanya.

Penutup

Warisan Sejarah dan Budaya adalah aset yang sangat berharga yang merupakan cerminan dan jati diri bangsa untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan. Warisan Sejarah dan Budaya berupa Artefak dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan, karena peninggalan tersebut dapat dijadikan bukti keberadaan para pendahulu beserta kebudayaannya dalam mengisi kehidupan hingga saat ini. Seperti yang ditinggalakan di  kawasan Candi Muaro Jambi sebagai pusat Kerajaan Melayu Kuno yang memiliki kekayaan temuan artefak emas. Tinggalan yang menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian penting dalam interaksi budaya dan perkembangan peradaban di Nusantara, khususnya Jambi.

 

Daftar Pustaka

Depdikbud, 1999. Vademakum Benda Cagar Budaya, Jakarta : Proyek pembinaan peninggalan sejarah dan kepurbakalaan pusat

Disbudpar, 2005. “Sekilas Peninggalan Benda sejarah dan Budaya Daerah Jambi”

Disbudpar, 2007. “Peninggalan Peradaban Jambi : situs dan Benda Cagar Budaya”​

Kemenbudpar, 2011. Koleksi Artefak Emas Kawasan Percandian Muaro Jambi, Jambi : Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi

Nazir BA, M, 1981. Benda-benda : Arkeologi klasik daerah jambi, Jambi : Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Nazir BA, M, Mengenal : Candi-Candi Muara Jambi,  Jambi : Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

 

Penulis: Belkies Osella (Arkeologi 2014)

belkies131096@gmail.com

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *