Artefak dari Situs Rantau Kapastuo Sebagai Petunjuk Adanya Permukiman Masa Klasik Di Kab. Batanghari

Abstrak

Permukiman dan sumber air memang tidak bisa untuk dipisahkan. Selain dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari air juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dan yang tak kalah pentingnya sebagai keperluan religi. Oleh karna itulah banyak peradaban tumbuh di sekitar tepi perairan, terutama pada masa Hindu, Buddha, Islam dan Kolonial di Indonesia.

Situs Rantau Kapastuo ini berlokasi di DAS sungai Batanghari dan berdasarkan penelitian sebelumya di situs ini di temukan fragmen keramik dan struktur bata. Selain itu pula pada sekitar situs ditemukan arca Awalokiteswara yang berjumlah dua buah oleh penduduk sekitar yang menjadi dasar dilakukan ekskavasi. Keberadaan arca ini serta ditemukanya struktur bata dan fragmen keramik mengidentifikasikan akan adanya permukiman kuno serta kemungkinan bangunan suci.

Kata kunci : Arca, Situs Rantau Kapas Tuo, Permukiman, Batanghari

Pendahuluan

Provinsi Jambi adalah salah satu Provinsi yang ada di Pulau Sumatera yang memiliki banyak tinggalan arkeologis baik dari zaman Prasejarah, Klasik, Islam maupun Kolonial. Tinggalan tersebut banyak yang tidak terlepas dari peran sungai Batanghari yang menghubungkan hampir semua Kabupaten seperti Kabupaten Merangin, Sarolangun, Batanghari, Muaro Jambi dan bermuara di pantai Timur Sumatera tepatnya di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Perhatian terhadap tinggalan Arkeologis di DAS Batanghari tepatnya di kompleks percandian Muara Jambi telah dimulai sejak tahun 1820 oleh kapten S.C. Crooke, seorang perwira Inggris (Schnitger 1937). Kemudian oleh Adam tahun 1920 dan F. M. Schitger.  Pada tahun1954 sebuah tim dari dinas purbakala menuju lokasi situs dan mendata kembali apa yang dilaporkan oleh Schnitger.  Mc Kinnon mencatat tidak kururang dari 11 situs masa klasik tersebar di DAS Batanghari (11). Dan masih banyak lagi situs lainya yang di temukan sampai tahun 2016 yang belum hitung.

Arca dan keramik belum banyak mendapatkan perhatian dalam bidang penelitian arkeologis setidaknya hingga tahun 1982. Menurut Satyawati Sulaiman Penelitian arca dan keramik baru sedikit dipergunakan untuk penetapan sesuatu. Tetapi akhir-akhir ini kedua macam benda itu banyak ditemukan di Sumatra, sehingga sudah tiba waktunya untuk membuka penelitian yang lebih mendalam berdasarkan penemuan-penemuan itu pada situs-situs arkeologi. Penelitian tersebut demikian bermanfaat, terutama untuk penelitian arkeologi klasik.

Seni arca yang menciptakan dewa – dewa dipergunakan untuk mengadakan hubungan dengan dewa-dewa tersebut. Sedangkan seni bangunan menciptakan bangunan-bangunan sebagai tempat kediaman dewa – dewa; begitu pula seni lukis menghias tembok-tembok rumah perdewaan dengan cerita dewata. Di samping itu seni drama mempertunjukkan cerita dewata yang dilakukan oleh pelaku manusia. Sementara seni musik dengan seni suaranya memuja kebesaran dewa-dewa (Wirjosuparto 1956: 6). Pada masa hindu-buddha kita mengenal gaya seni Jawa Tengah dan gaya seni Jawa Timur pada karya seni klasik (Soekmono 1973:86) yang didasarkan pada bentuk ekspresi benda seni yang dihasilkan dengan kedua gaya tersebut tanpa menjelaskan mengapa hal itu terjadi (Maulana 2002).

Menurut KBBI pemukiman adalah daerah tempat bermukim atau tempat dimana orang bertempat tinggal. Tinggalan arkeologi merupakan bukti pemukiman, baik dari manusia yang hidup berpindah-pindah maupun menetap. Artefak dan fitur yang ditemukan di suatu permukiman masa silam mengalami proses: dibuat, digunakan, dan dibuang atau ditinggalkan karena tidak dimanfaatkan lagi. Artefak mungkin dapat ditemukan di tempat (ruang) pembuatanya, penggunaan, maupun pembuangannya. Sedangkan fitur tetap berada di tempat pembuatannya semula. Tinggalan arkeologis tersebut kemudian mungkin mengalami transformasi karena kegiatan manusia pada masa kemudian atau kegiatan alam, termasuk binatang (Sharer dan Ashmore, 1979:85-92).

Situs Rantau Kapastuo merupakan salah satu situs yang berada di DAS Batanghari. Dimana di situs tersebut telah ditemukan 2 buah arca perunggu berlapis emas. Arca – arca ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang pemuda desa yang sedang memperbaiki pagar kebun orang tuanya pada tanggal 3 Februari 1992. Sebagai tindak lanjut dari penemuan ini, sebuah tim dari SPSP Jambi diturunkan ke lokasi untuk melakukan ekskavasi penyelamatan.

Temuan struktur bata telah dilaporkan  pada tanggal 27 Februari 1992. Berdasarkan temuan tersebut, kepala SPSP menugaskan tim melakukan penjajagan terhadap struktur bata dan melakukan ekskavasi (tahun 1993). Selain itu penelitian ekskavasi penyelamatan dan pengamanan berusaha untuk menjajaki hubungan arca dengan struktur bata.

Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat jejak permukiman lokal yang didiami oleh suatu komunitas. Terdiri dari berbagai kelompok-kelompok sosial dan status sosial pada situs Rantau Kapastuo. Kelompok sosial yang dimaksud dapat berupa rumah tangga (residential group) dan lembaga yang mengikat kehidupan bersama komunitas (nonresidential group). Dalam kumunitas juga terdapat bermacam status sosial yang dimiliki warganya, seperti status sosial berdasarkan jenis kelamin (pria dan wanita), usia (anak-anak dan dewasa), dan profesi (petani, pendeta) dan sebagainya (Soekanto 1983: 23-41)  (Rangkuti 1986).

Metodologi

Penelitian ini dalam penerapanya menggunakan penalaran defuktif yaitu berdasarkan kerangka teori untuk menjelaskan gejala atau kasus tertentu. Tipe penelitian yang digunakan yaitu eksplikatif/deskriptif dan eksplanatif. Penelitian dimulai dengan pengumpulan data kepustakaan berupa laporan-laporan penelitian sebelumnya.

Situs Rantaukapastu

  1. Letak dan Lingkungan

Secara administratif situs Rantau Kapastuo berada di dalam wilayan Desa Rantau Kapastuo, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Secara astronomis Desa Rantau Kapastuo berada pada koordinat 103°  7 BT 103° 10 BT sampai 01, 39´ LS-01, 41´  LS dan terletak pada ketinggian 25 – 50 meter di atas permukaan laut.

Desa Ranatu Kapatuo sendiri wilayahnya terdiri atas rawa yang sekarang sudah difungsikan sebagai area persawahan. Di sebelah selatan adalah pemukiman. Sementara di sebelah utara berupa perbukitan yang ditumbuhi oleh hutan sekunder. Lokasi pemukiman penduduk berada di tanggul alam sungai searah dengan aliran sungai Batanghari. Penduduk Desa Rantau Kapastuo sebagian besar hidup dari hasil sawah dan ladang dengan hasil sampingannya sebagai nelayan.

  1. Peninggalan Arkeologis

2.1 Arca Awalokiteswara

Arca-arca yang ditemukan pada situs Rantau Kapastuo tepatnya di daerah Melako Kecik, berupa arca bodhisatwa Awalokiteswara. Identifikasi tersebut didasarkan terdapatnya laksana tokoh Amithaba dalam relung kecil pada bagian muka sanggul arca besar dan sebuah relung kecil ditempat yang sama pada arca yang berukuran lebih kecil. Potongan tangan yang membawa bunga teratai (padma) dan pustaka juga menunjukkan laksana toko Awalokiteswara.

Kedua Arca ini berbahan perunggu berlapis emas. Emas merupakan syarat ritual yang harus ada, di samping timah hitam dan timah putih (werner 1972: 39-40). Arca Awalokiteswara dalam keadaan cukup baik. Hanya beberapa bagian yang hilang terutama tangan yang mudah patah. Arca yang lebih besar memiliki tinggi 39 cm yang besar dengan berat 2,2 kg. Sementara  Arca yang lebih kecil 28, 2 cm dengan berat 0,85 kg. Arca ini ditemukan tidak memiliki lapik (padmasana) karena hilang pada saat ditemukan. Sebuah sempalan besar bahkan ditemui pada bagian belakang arca Awalokiteswara kecil. Arca yang berukuran kecil telah patah menjadi dua dan terpaksa disambung oleh penemu dengan lelehan plastik (SPSP: 1992). Menurut Utomo arca ini berlanggam Sailendra. Menariknya, kain yang digunakan berupa kulit harimau dengan kepala harimau digambar pada paha sebelah kanan (Utomo, 2010).

2.2 Keramik

Pada situs ini banyak ditemukan keramik jenis porceline, stonewere dan eartenwere. Keramik-keramik ini ditemukan pada permukaan (hasil survei) dan di dalam tanah melalui ekskavasi. Di sekitar temuan arca hanya ditemukan sedikit pecahan porceline berupa mangkuk kecil berkaki tinggi yang kebanyakan berwarna hijau muda dengan glasir mengkilap rata bahkan cendrung transparan. Selain itu terdapat sebuah pecahan piring biru-putih dari masa Dinasti Qing.

Hal sebaliknya terjadi di permukaan pada pinggiran sungai Batanghari yang lebih kaya temuan keramik. Terdapat pecahan piring dari bahan batuan berglasir seladon hijau pupus dan guci ukuran sedang. Pecahan-pecahan keramik asing dari lokasi ini menghasilkan kisaran kronologi yang cukup panjang yaitu sejak abad ke-10 sampai abad ke-20. Sedangkan Survei permukaan pada tepian sungai Tai dan sungai Kapas hanya menemukan 4 pecahan keramik.  Kemudian keramik yang ditemukan dari hasil ekskavasi pada tahun 1992 dan 1993 berjumlah 59 pecahan keramik asing (porceline dan stonewere). 138 pecahan keramik lokal (eartenwere).

2.3 Struktur Bata

Pada tanggal 27 Februari 1992 ditemukan struktur bata di Situs Rantau Kapastuo. Jaraknya sekitar 100 m dari tempat penemuan arca dan 77 m dari tepi sungai Batanghari.

Selanjutnya ekskavasi yang dilakukan pada tahun 1993, menghasilkan temuan berupa struktur bata “intak”. Namun struktur bata tersebut bukan bagian dari struktur bangunan karena hanya tersusun sebanyak 4 lapisan dengan panjang 2,70m membujur arah Tenggara-Barat Daya. Struktur bata ini berada di lerang perbukitan, sekitar 77 meter dari tepi sungai Batanghari. Batanya memilki ukuran yang lebih besar bila dibandingkan dengan bata-bata yang ditemukan sepanjang DAS Batanghari yang memiliki panjang 42 cm, lebar 21 cm dan ketebalan mencapai tebal 8 cm. Selain itu, di sana juga ditemukan bata-bata lepas.

2.4 Temuan lainya

Temuan lainya yang ditemukan di Situs Rantau Kapastuo adalah terak logam, arang, fosil kayu, pecahan kaca, artefak batu dan fitur (tanggul buatan). Temuan fitur ini cukup menarik karena berupa gundukan tanah yang merentang dari sungai Tai hingga Sungai Kapas yang merupakan anak sungai Batang Hari.

 

Situs Rantau Kapastuo Sebagai Pemukiman Masa Klasik

Permukiman situs Rantau Kapastuo setidaknya sudah ada sejak abad ke-8-9 berdasarkan temuan arca Bodhisatwa Awalokiteswara. Arca ini berbahan perunggu berlapis emas dengan langgam Sailendra. Hal yang unik dari salah satu arca ini ialah kain yang dikenakan berupa kulit harimau dengan kepala harimau yang digambarkan pada paha sebelah kanan. Jadi dapat dipastikan bahwa masyarakat Rantau Kapastuo pada masa itu memegang keyakinan agama Buddha.

Lokasi yang strategis untuk bermukim berada di tanggul alam yang relatif datar. Keberadaan di DAS Batanghari memudahkan aktifitas masyarakat. Dari segi perdagangan dan tranportasi masyarakat sudah menjalin hubungan wilayah lain, seperti Cina terlihat dari fragmen keramik yang ditemukan. Belum bisa diketahui apakah hubungan ini secara langsung ataupun tidak langsung.

Adapun hasil ekskavasi pada tahun 1993 pada situs ini (70 meter dari temuan arca) berhasil menemukan struktur bata setelah mendapatkan informasi dari masyarakat. Namun struktur bata tersebut tidak membentuk sebuah bangunan dan belum bisa dipastikan fungsinya. Oleh katenanya belum bisa menentukan hubungan dengan Arca Awalokitaswara apakah merupakan bagian dari kuil atau tidak.

Berdasarkan temuan fragmen keramik yang lebih banyak ditemukan pada tepian sungai Batanghari mengindikasikan aktifitas permukiman yang lebih padat dibandingkan daerah arah bukit. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa sumber air seperti sungai menjadi tempat yang ideal sebagai tempat bermukim. Apakah tradisi bermukim masyarakat di DAS Batanghari sekarang masih sama seperti pada masa ratusan bahkah belasan abad yang lalu seperti pada situs ini?. Menarik untuk di kaji.

Penutup

Pada mulanya di situs ini hanya ditemukan 2 (dua) buah arca bodhisatwa awalokiteswara. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Balai pelestarian cagar budaya (dahulu SPSP) berhasil menemukan sisa-sisa pemukiman masa klasik berupa pecahan keramik baik berupa porselin, batuan dan tembikar. Survei dan penggalian yang dilakukan menunjukkan keramik Cina dari masa Dinasti Sung sampai yang termuda dari masa Dinasti Qing.

Setidaknya sisa permukiman pada situs ini berasal dari abad ke-8-9 masehi berdasarkan temuan arca Awalokiteswara. Kemudian arca tersebut mengindikasikan masyarakat di sana saat itu memegang keyakinan agama Buddha. Menariknya terdapat temuan tanggul buatan yang diketahui dari penelitian tahun 1992. Sekitar tanggul tersebut memiliki jumlah temuan fragmen kramik (mayoritas tembikar) yang lebih padat.

Masih banyak misteri yang harus di ungkap dari situs ini. Kurangnya minat penelitian arkeologi permukiman memberikan dampak kurangnya informasi tentang situs ini terutama untuk kalangan umum. Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengingat permukiman masa Klasik sangat mempengaruhi perkembangan permukiman zaman sekarang.

 

Daftar Pustaka

Maulana, Ratnaesih, “Teknik Bahan dan Media Arca Jaman prasejarah-Hindu-Buddha di Indonesia”, Kumpulan Makalah PIA IX Kediri, 23-28 Juli 2002, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Jakarta 2008, hal: 692-696.

McKinnon, E. E. 1985. “Early Polities in Southern Sumatra: Some Preliminary Observation Based on Archaeological Evidences” dalam Indonesia, 40, hal. 1-36. Dalam laporan ekskavasi 1992. SPSP Jambi.

Rangkuti, Nurhadi, dan Maria Rosita Pr., “Studi Gerabah dan Keramik Dalam Kaitanya dengan Sistem Permukiman Muara Jambi”, Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi III, Pandeglang 5-9 Desember 1986, Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1988, hal: 195-217.

Sharer, R. J. Dan Ashmore, W. 1979. Fundamentals of Archaeology, California: The Benjamin/Cumpany, inc. Dalam S. Budisantosa.

Schnitger, R. M. 1937. The Archaeology Of Hindoo Sumatra.  Leiden: E. J. Brill.

  1. Budisantosa, Tri Marheini. 2013. “Sejarah Pemukiman Dari Awal Hingga Hindu-Buddha”. Dalam Siddhayatra vol. 18. Palembang.

Soekmono, R, 1973 Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid Kedua, Penerbit Yayasan Kanisius.

Suleiman, Satyawati, “Artinya Penelitian Baru Arca-Arca Klasik di Sumatera Untuk Penelitian Arkeologi Klasik”, Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi I, Cisaruan 8-13 Maret 1982, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, 1983, hal:2001-221.

Tim, 1992, Laporan Ekskavasi Penyelamatan Situs Rantaukapastuo Tahun 1992,  Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala, Jambi.

Tim, 1993, Laporan Hasil Ekskavasi Penyelamatan Situs Rantaukapastuo Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi Tahun 1993, Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala, Jambi.

Utomo, Bambang Budi. 2010. “Buddha di Nusantara”. Buddhist Education Centre.

Sidgi Hamdi, Arkeologi Unja 2014

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *