Pembahasan Singkat Seputar Candi Muaro Jambi

Oleh: M. Sobar Alfahri
Program Studi Arkeologi, Universitas Jambi
e-mail: Alfahri666@gmail.com

Di provinsi jambi, lebih tepatnya di Kabupaten Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Desa Muaro Jambi, terbentang sisa peradaban kuno berupa percandian, yaitu Candi Muaro Jambi; sebuah kawasan yang memiliki luas sekitar 12 Km persegi. Berdasarkan riwayat penelitian, keberadaan percandian ini pertama kali dilaporkan oleh perwira dari inggris yang bernama S.C Crooke, yaitu pada tahun 1802 saat dia melakukan survei pemetaan aliran sungai Batanghari. Kemudian sekitar setengah abad berikutnya, Candi muaro jambi kembali dilaporkan oleh tim ekspedisi Belanda yang bernama Expedition Midden Sumatera. Namun laporan dari tim tersebut belum ditemukan sampai saat ini.Candi Tinggi

Pada tahun 1921 dan 1922 T. Adams menerbitkan catatannya mengenai Candi Muaro Jambi dalam majalah Oudheidkundig Verslag. Kemudian F.M Schnitger juga menunjukan perhatiannya dengan kunjungan yang dilakukan pada tahun 1935. Dia menyebutkan bahwa setidaknya ada 7 bangunan di candi muaro jambi. Tak hanya sampai di situ, F.M Schnitger juga melakukan penggalian. Sayangnya sebagian informasi tidak ditulis dalam laporan. Hal tersebut terjadi karena pendokumentasian yang dilakukan pada penelitan saat itu tidak lengkap.

Kesibukan  dalam menangani situasi politik, membuat informasi mengenai Situs Candi Muaro Jambi tidak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah RI. Setelah memasuki kemerdekaan barulah pemerintah Indonesia menanggapi laporan-laporan tersebut dengan dibentuknya Tim yang diketuai oleh R.Soekmono pada tahun 1954 dengan tujuan melakukan investigasi kepurbakalaan di sumatera, terutama kepurbakalaan di muaro jambi. Sejak saat itu, kegiatan penelitian, pembugaran dan pelestarian dilakukan  hingga sekarang.

Temuan arca di sana menjadi indikasi bahwa Candi Muaro Jambi merupakan bangunan agama budha. Ada kemungkianan Kawasan Candi Muaro Jambi merupakan kompleks wihara dan asrama seperti di Nalanda, yaitu tempat tempat para bhiksu dan bhiksuni menuntut ilmu. Selain itu, kawasan ini juga diduga berperan sebagai pemukiman. Hal tersebut ditandai dengan temuan yang berkaitan dengan aktifitas sehari-sehari seperti keramik dengan jumlah yang besar, dan Belanga yang biasa digunakan untuk memasak dalam volume yang besar. Berdasarkan kronologi keramik, diperkirakan Candi Muaro Jambi eksis pada abad ke 7–13 masehi (Bambang Budi Utomo; 2010). Semetara itu, para peneliti Muaro Jambi telah menempatkan kronologi relatif, pada Candi Muaro Jambi yaitu pada abad 10-13 masehi. Di mana saat itu merupakan termasuk masa Kerajaan Srwijaya dan Malayu kuno

Bangunan candi muaro jambi umumnya dibentuk dengan menggunakan bata yang lebih lebar dari bata yang sekarang. Namun di beberapa bangunan, juga terdapat batuan, seperti pada gapura Candi Kedaton. Selain struktur bangunan, di kawasan Candi Muaro Jambi, juga terdapat fitur berupa Kanal dan kolam kuno yang dinamakan Telago Rajo. Saat ini di kawasan Candi Muaro Jambi setidaknya terdapat 13 candi dan lebih dari 75 menapo. Sebagian menapo ada yang berada di dekat rumah warga sekitar. Sebagian juga ada yang berada di tengah perkebunan.

Daftar Pustaka

Utomo, Bambang Budi. Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia Di Batanghari. 2011. Dinas Kebudayaan dari                    Parawisata Provinsi Jambi

Utomo, Bambang Budi. Budha di Nusantara 2008. Buddhist Education Centre

Tim. Selayang Padang Kawasan Percandian Situs Muaro Jambi. Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Utomo, Bambang Budi. Jakarta, 2010. Bhudisme di Asia Tenggarah Pengaruhnya Di Muara Jambi Sebagai Pusat Upacara

 

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *