Peringatan Hari Warisan Dunia dari Arkeologi Universitas Jambi

Peringatan hari warisan dunia atau “World Heritage Day” pertama kali diusulkan oleh ICOMOS (International Council on Monuments and Sites) pada tanggal 18 April 1982. Kemudian tahun 1983  UNESCO menetapkan world heritage day dalam sidang umumnya ke22. Peringatan ini menjadi akses untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memahami nilai-nilai luhur dan memberi semangat untuk melindungi sekaligus melestarikannya.

Provinsi Jambi yang telah menuai perhatian tinggi karena warisan budaya yang dimilkinya, seperti kawasan Candi Muaro Jambi dan Situs Arkeologis yang ada di Kab. Kerinci, sudah selayaknya memperingati world heritage day.  Sayangnya masyarakat di Provinsi Jambi masih banyak yang belum mengetahui tentang potensi warisan budaya yang dimilikinya. Dengan begitu diperlukan momentum bagi instansi terkait dan pihak akademisi untuk mempromosikan sekaligus menggali potensi warisan budaya yang dimiliki Jambi. Hari warisan dunia menjadi momen yang tepat untuk merealisasikan hal tersebut, sehingga pada tanggal 16-18 April 2017 Arkeologi UNJA mengadakan 2 kegiatan. Kegiatan yang dimaksud ialah berupa advokasi dan sosialisasi di Candi Muaro Jambi dari tanggal 16-17 April 2017 . Kemudian keesokannya dilanjutkan forum Bedah Buku yang berjudul “Kerincimu Kerinciku : Dataran Tinggi Jambi dalam Perspektif Arkeologi” yang dilaksanakan di Universitas Jambi, Gedung FIB. Tujuan kedua kegiatan ini ialah mendukung adanya pengakuan UNESCO terhadap Warisan Budaya. Namun dengan perebedan waktu, tempat dan konsep, kedua kegiatan ini tentu juga memiliki manfaat dan tujuan yang tersendiri.

Advokasi dan sosialiasasi yang dilakukan di Candi Muaro Jambi ialah ajakan agar pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga terwujudnya kebersihan di Candi Muaro Jambi yang akan menjadi dukungan kawasan ini menjadi Warisan Dunia. Sebagai ajakan dan aksi nyata, sebagian mahasiswa/i Arkeologi membawa trashbag dan memungut sampah di sekitar Candi.  Hal tersebut dilakukan bersama pemuda dari sekitar kawasan Candi Muaro Jambi. Tak hanya itu, juga dilakukan pemasangan papan himbauan agar membuang sampah pada tempatnya, tidak menaiki Candi dan tidak memasuki Candi dengan menggunakan sepeda.

Sosialisasi yang dilakukan para mahasiswa dan mahasiswi Arekologi juga membahas UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kemudian juga memberi peringatan agar pengunjung tidak menaiki candi.  Peringatan tersebut diperlukan demi menjaga kelesatarian candi dalam jangka panjang, karena jika bata yang menjadi bahan candi sering memikul beban berat, lama-kelamaan akan aus dan rusak. Selain itu Mahasiswa/i Arkeologi UNJA tentunya memberitahukan bahwa pada tanggal 18 April merupakan hari Warisan Dunia, dan Candi Muaro Jambi memiliki potensi untuk bisa menjadi warisan Dunia, karena Candi Muaro Jambi merupakan kawasan candi terbesar di Asia Tenggara.

Buku “Kerincimu Kerinciku: Dataran Tinggi Jambi dalam Perspektif Arkeologi” merupakan hasil kerjasama dari pihak Balai Arkeologi Palembang dengan Penerbit Ombak tahun 2016. Pemateri dalam acara bedah buku  yang diadakan Prodi Arkeologi Unja ialah Retno S.S.,M.Hum dari pihak Balai Arkeologi Palembang,  pihak dari BPCB Jambi dan Yusdianra Drs. Yusdi Anra M.pd sebagai ketua Prodi Arkeologi Universitas Jambi. Pihak Fakultas Ilmu Budaya yang mengadiri Acara ini adalah Dekan, Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, Para Dosen, Mahasiswa/i Ilmu Sejarah dan Mahasiswa Arkeologi. Kemudian acara ini juga dihadiri Kepala Balai Arkeologi Palembang, serta mahasiswa UNJA lainnya dan mahasiswa/i dari UNBARI.

Secara tak langsung pemateri menjelaskan bahwa buku ini merupakan hasil dari penelitian yang lebih menggunakan pendekatan etik.  Gambaran karakteristik dataran tinggi arkeologis (arkeologis landscape) terdapat di dalamnya.  Benda Arkeologis yang di temukan di kerinci mulai dari masa prasejarah, klasik, hingga masa islam-kolonial terbilang banyak. Sayangnya buku “Kerincimu Kerinciku” tidak membahas bagaimana pengaruh islam di kerinci, serta  pengaruh Kolonial.  Salah satu yang menarik di kerinci ialah naskah yang beraksara incung. Dengan adanya aksara tersebut menjadikan daerah Kerinci sebagai satu-satunya daerah Sumatera bagian tengah yang memiliki aksara tersendiri.

Dari Bedah Buku ini kita mengetahui bahwa tinggalan arkeologis di Kerinci terbilang banyak dan menarik. Dengan begitu kerinci layak untuk menjadi Warisan Dunia. Sayangya benda-benda arkeologis di Kerinci banyak tersebar dimana-mana. Untuk itu kita berharap semoga ada kebijakan dari pemerintah untuk menghadirkan solusi serta tindakannya.

Dengan adanya kegiatan Advokasi dan Sosialisasi di Candi Muaro Jambi, serta adanya Bedah Buku “Kerincimu Kerinciku: Dataran Tinggi Jambi dalam Perspektif Arkeologi”, diharapkan dapat menjadikan masyarakat umum, pihak Akademisi dan pemerintah untuk bekerja sama melindungi dan melestarikan warisan budaya di provinsi Jambi, seperti kawasan Candi Muaro Jambi dan Situs-situs yang ada di Kerinci. Lalu senantiasa untuk menggali potensi warisan budaya untuk memahami nilai-nilai leluhur dan estetika yang tersedia di dalamnya.

Advokasi Sumber: Dok. Rakes

Tim Redaksi

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *