Ekskavasi bersama Balai Arkeologi Medan di Situs Bukit Candi

Ketika pertama kali mendengar Situs Bukit Candi, kemungkinan yang terbayangkan ialah situs bangunan Hindu-Budha dari masa klasik. Hal itu tentu saja terjadi karena secara umum Candi adalah bangunan kuno yang dibuat dari batu, sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja-raja, pendeta-pendeta Hindu atau Buddha pada zaman dulu. Namun Situs Bukit Candi yang dimkasud bukanlah situs bangunan Hindu-budha. Penamaan situs ini sebenarnya dambil dari nama seseorang yang bernama “Candi” dan cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat sekitar. Menurut mereka, dahulu tinggalah seorang yang bernama Candi bersama istrinya. Untuk  mendapatkan anak, suami-istri ini memotong beberapa kucing dan berpesta sesuai dengan petunjuk dari mimpi yang mereka dapatkan. Namun setelah pesta selesai, tidak lama kemudian terjadi bencana besar yang mengakibatkan timbulnya bukit. Bukit inilah yang dinamakan “Bukit Candi”.

Secara administratif Situs Bukit Candi terletak di Desa Pulau Jambu, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Menurut Komunitas Peduli Sejarah Cerenti (KPSC) dan masyarakat sekitar, terdapat temuan berupa bata kuno di Situs Bukit Candi. Mendengar laporan tersebut, pihak Balai Arkeologi Medan bersama Arkeologi UNJA yang terdiri dari tiga mahasiswa/i dan satu Dosen, melakukan penelitian di sana pada tanggal 16-25 April 2017.

Mahasiswa/i yang terlibat, telah mempelajari survei permukaan, survei udara dengan menggunakan drone, pemetaan situs dan kotak dengan menggunakan penyipat datar, penggambaran, serta tahap ekskavasi yang mangasilkan data berupa tembikar, kramik dan pecahan bata. Dengan adanya temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa di Situs Bukit Candi terdapat jejak aktivitas manusia pada masa lampau.

Sumber: Dok. Arkeologi UNJA

“Masyarakat di sana cukup antusias dengan penelitian yang kita lakukan. Sebagian masyarakat ada yang sekedar melihat, dan ada juga yang ikut serta dalam ekskavasi sebagai tenaga lokal. KPSC selaku komunitas di sana, turut aktif dalam ekskavasi dan persiapannya” ujar Rini selaku mahasiswi yang terlibat. Kemudian dalam presentasenya (18/5), Rini juga mengatakan bahwa penelitian ini telah mendapatkan taggapan dari PUSLIT ARKENAS (Pusat Penelitian Arkeologi Nasioanal). Instansi ini rencananya akan melanjutkan penelitian di Bukit Candi.

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *