Kuliah Umum Bersama BPCB Jambi, BALAR Sumatera Selatan dan BALAR Sumatera Utara

Di tengah masa penyambutan dan perkenalan mahasiswa/i baru, Arkeologi Universitas Jambi kembali mengadakan kuliah Umum. Bertempat di gedung rektorat, kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 14 agustus 2017 yang dimulai sekitar pukul 8:00 Pematerinya berasal dari BPCB Jambi, Balai Arkeologi (BALAR) Sumatera Utara dan Balai Arkeologi (BALAR) Sumatera Selatan. Tema yang digunakan dalam kuliah umum ini ialah “Arkeologi Sumatera: Peluang dan Tantangan”. Para mahasiwa/i dari Arkeologi Unja angkatan 2014 hingga angkatan 2017 menjadi peserta di kuliah. Selain sebagai tempat untuk menambah wawasan mengenai arkeologi, memperkenalkan arkeologi oleh mahasiswa/i baru juga menjadi tujuan diadakan kegitan ini. Secara khusus, kegiatan ini juga untuk memperat jalinan kerja sama antara Arkeologi Unja dan intansi-intansi Arkeologi yang turut serta dalam kegiatan ini.

Kegiatan ini tampaknya telah berhasil menggali potensi Arkeologi di Sumatera. Salah satu penyebabnya ialah dikarenakan materi yang disajikan oleh Pak Budi Wiyana selaku kepala Balai Arkeologi Sumtera Selatan dikarenkan berjudul “Arkeologi Sumatera bagian Selatan; Peluang dan tantangan”. Dalam meteri tersebut menyinggung temuan arkeologis yang berasal dari Dataran Tinggi Pasemah, DAS Musi dan Pantai Timur Selatan. Kesimpulan dari materi ini ialah; walaupun terdapat tantangan, yaitu tersimpan di rumah penduduk,  jarak situs yang jauh dan SDM terbatas. Namun peluang penelitian di Sumatera bagian selatan terbilang masih luas, dikarenakan data yang masih banyak. Hal ini tentunya akan  berdampak pada meluasnya upaya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Pak Muhammad Ramli selaku kepala BPCB Jambi, menjadi pemateri kedua dalam kuliah umum ini. Dalam materinya Pak Ramli menjelaskan betapa pentingnnya Cagar Budaya dan pelestariannya. Kemudian Pak Ramli  juga menjelaskan prinsip dasar melestarikan Sumber daya Arkeologi dan cara kerjanya. Menariknya, selain menyajikan materi, Pak ramli juga memberikan pertanyaan kepada peserta kuliah umum. Bagi yang bisa menjawab pertanyaannya, diberikan hadiah berupa buku.  Hal ini tentu menjadi kesan tersendiri untuk para peserta yang mendapatkannya.

Setelah selesai pemaparan dari Pak Muhammad Ramli, berikutnya kuliah umum dilanjutkan dengan materi yang disajikan oleh kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara. Judul materi yag ditampilkan ialah “Penelitian Arkeologi di Sumatera”.  Tugas dan Fungsi Balai Arkeologi Sumatera Utara juga dijelaskan. Oleh karena penjelesan tersebut mengenai tugas Arkeolog, barangkali akan sangat berguna bagi  para mahasiswa/i Arkeologi, sehingga mengetahui dunia kerja Arkeologi.

Pemaparan yang terakhir ialah mengenai eksistensi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), yang dijelaskan oleh Pak Agus Sudaryadi selaku Arkelolog dari BPCB sekaligus Dosen Arkeologi Universitas Jambi. Sebagai pembahasan yang juga menjelaskan dunia kerja Arkeologi,  barangkali paembahasan ini telah memperkuat pembahasan sebelumnya. Dalam pemaparannya, Pak Agus juga menerangkan betapa pentingnya menulis dalam dunia Arkeologi.

Memasuki sesi tanya jawab, para mahasiwa/i yang cukup antusias memanfatkannya. Dengan diadakan kuliah ini diharapkan para mahasiswa/i arkeologi lebih semangat dan wawasannya bertambah, sesuai dengan tujuan diadakan kuliah umum ini. Kemudian jalinan kerjasama Arkeologi UNJA bersama BPCB Jambi, Balai Arkeologi Sumatera selatan, Balai Arkeologi Sumatera Utara bisa langgeng. Selain itu, sesuai dengan pernyataan Pak Asyhadi Mufsi Sadzali selaku dosen sekaligus moderator di kuliah umum, ternyata kegiatan ini juga untuk mempertemukan para mahasiswa/i kepada para ahli di dunia Arkeologi yang memiliki banyak pengamalam dan sudut pandang berbeda dari dosen kita. Melalui acara ini Pak Asyhadi juga ingin menerangkan bahwa dunia kampus itu  harus ada kegiatan lain selain di kelas, yaitu kegitan yang dapat mewarnai kampus dan menghasilkan wawasan.

Pernyataan dari  Pak Asyhadi Mufsi Sadzali di atas merupakan serangkain kata yang dihasilkan dari wawancara. “Ya agar mahasiswa baru lebih semangat. Kita juga memperkenalkan bahwa dunia akademik atau dunia kampus ya memang sperti itu. Maksudnya kita harus banyak melakukan kegiatan-kegiatan supaya dunia kampus lebih hidup, menghasilkan wawasan dan semangat. Tidak hanya di kelas” ujar pak Asyhadi. Dalam pertanyaan yang sama beliau melanjutkan jawabnya, “Kenapa kita mengadakan kuliah umum?, karena sudut narasamber tentu memiliki pandangan yang berbeda dengan sudut pandang dosen kita. Kemudian narasumber yang kita undang itu memang sudah pakar dan memiiliki pengalaman yang banyak. Sementara dosen mungkin dia ahli dengan teori, namun mungkin pengetahuan dari lapangan kurang”.  “Kita sudah mengadakan MOU dengan intansi Arkeologi se-sumtera, jadi ini adalah bagian dari implementasi MOU tadi; wujud nyata dari MOU, bahwa tidak hanya UNJA saja yang punya kepentingan. Selama ini kita terus yang merepotkan mereka; kita kuliah lapangan nginap di mes nya mereka, ada jadwal kuliah lapangan kita minta bantu sama mereka, magang di tempat mereka. Jadi ini juga merupakan timbal balik”, lanjut Pak Asyhadi.

Tim Redaksi,

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *