Melestarikan Budaya Melayu Melalui Seminar

Seminar internasional terkait budaya Melayu di rektorat 11/11/2017 (Dok. Tri Siswoyo)

Seminar internasional terkait budaya Melayu di rektorat 11/11/2017 (Dok. Tri Siswoyo)

Pihak dari Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Jambi  menyadari bahwa kebudayaan Melayu yang terbentuk di Indonesia, khususnya di Jambi harus dipertahankan sebagai identitas. Kesadaran ini telah diperlihatkan dengan mengadakan seminar internasional bertemakan “Melayu Culture Identity In Humanities Prespective.” Seminar internasional ini berlangsung di gedung rektorat Universitas Jambi, pada tanggal 11 November 2017. Prof. Mahdi Bahar, S.Kar, M.Hum dan Dr. Drs. Maizar Karim, M.Hum. menjadi pemateri yang berasal dari Universitas Jambi. Selain dari Universitas Jambi, seminar ini juga menghadirkan pemateri dari Archaeology of Archipelago Expert , yaitu bernama Jonathan Zilberg, Ph.d.

Seminar ini telah menghasilkan wawasan untuk Mahasiswa/i mengenai lusanya ilmu pengetahuan, sebagaimana pernyataan dari Prof. Mahdi dengan mengatakan “Seminar ini berjalan dengan baik, paling tidak telah memberikan wawasan, terutama kepada mahasiswa, bahwasannya ilmu pengetahuan itu sangat luas, bermacam aspek  bisa dibicarakan. Semua itu merupakan kajian-kajian yang memerlukan pendekatan-pendekatan secara ilmiah.”

Prof. Mahdi menegaskan bahwa Mahasiswa/i jangan berfikir subjektif, akan tetapi harus menekankan sifat ilmiah dalam mengkaji kebudayaan. “Biasanya pandangan hanya berdasarkan pandangan subjektif, tidak mengakar kepada kaidah-kaidah ilmu. Hal ini yang menjadi masalah. Seminar ini telah menggiring bagaimana caranya berpikir secara ilmiah. Kalau tidak sama saja seperti warung kopi,” ujar Prof. Mahdi.

“Tantangan FIB kedapan tidak hanya sekedar mengajar, tapi tanggung jawabnya lebih besar, katakakanlah itu budaya. Sebagai institusi, FIB bertanggung jawab terhadap pertanyaan dan penjelasan tentang Kebudayaan,” lanjut Prof. Mahdi.

Dampak yang diharapkan dari seminar ini ialah Mahasiswa/i bisa menggali pengetahuan dan mengolahnya sesuai perkembangan jaman, sehingga nilai-nilai kebudayaan lokal bisa dipertahankan atau dilestarikan. Harapan tersebut sesuai dengan pernyataan dari Pak Hadiyanto S.pd, M.Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan FIB yang menjadi moderator dalam seminar ini.  “Mahasiswa seharusnya tahu tugasnya dalam menggali ilmu, mencari informasi kemudian mengembangkannya ilmunya, dan melestarikannya sesuai yang disampaikan tadi. Bukan hanya latihan dan turun kelelapangan, tapi harus ada membuat program kedepan. Mahasiswa juga diharapkan mengeluarkan tulisan ilmiah dari hasil eksplorasinya, baik terkait budaya, maupun arkeologi,” ujar Pak Hadiyanto saat diwawancara.

Seminar interasional di gedung rektorat Unja (Dok. Tri Siswoyo)

Seminar interasional di gedung rektorat Unja (Dok. Tri Siswoyo)

“Pengetahuan dikembangkan sesuai konteks kekinian sehingga mahasiswa tetap mengikuti perkembangan ilmu, khusunya di FIB. Nilai yang sudah tertanam tidak hilang sepenuhnya seperti yang telah disampaikan oleh pemateri tadi. Simbol dari budaya lama tetap masih ada, tapi disesuaikan dengan kehidupan pada saat ini, sehingga budaya dari masa lampau akan terus diupdet sesuai perkembangan jaman,” lanjut Pak Hadiyanto.

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *