Prodi Arkeologi Universitas Jambi Ikut Serta Penelitian di Candi Koto Mahligai, Kira-Kira Apa Yang Ditemukan?

Prodi Arkeologi Unja dalam Ekskavasi di Situs Koto Mahligai (Dok. Retno Purwanti)

 

Penelitian di Kompleks Percandian Muarojambi, seolah-olah tak menemui kata penghujung. Penelitian tersebut tak lain dan tidak bukan adalah untuk mengungkap kehidupan manusia di masa lalu di sana. Kali ini, penelitian kembali dilakukan oleh tim Balai Arkeologi Sumatera Selatan, dibawah pimpinan Dr. Retno Purwanti.

Penelitian ini dilakukan di situs Candi Koto Mahligai. Situs ini terletak di gerbang paling barat dari kompleks percandian Muarojambi. Candi Koto Mahligai terdiri dari beberapa menapo atau gundukan bata di permukaannya. Candi ini juga ditumbuhi oleh pohon-pohon besar, seolah-olah menambah kesan magis dan romantismenya. Namun demikian, candi ini belum tersentuh penelitian-penelitian arkeologis yang telah dilakukakan sebelumnya. Oleh sebab itu, hingga saat ini, fungsi candi ini masih belum diketahui. Apakah dimanfaatkan sebagai wihara, asrama, atau bangunan lainnya?

Penelitian yang dilaksanakan dari tanggal 7 hingga 21 Juli 2021 ini, juga melibatkan program studi Arkeologi Universitas Jambi. Ketua prodi Arkeologi Asyhadi Mufsi Sadzali didampingi oleh beberapa mahasiswa dan alumni ambil bagian dalam kegiatan ekskavasi. Mahasiswa yang ikut serta diantaranya Ferdi, Eka Gada Pratama, dan Alpayed Syafrijal. Selain itu, turut juga alumnus arkeologi Unja yakni Hadi Prasetyo dan Najla Anggraeni.

Hasil ekskavasi sementara berhasil mengungkap bahwa candi Koto Mahligai merupakan kompleks bangunan seluas 15.865 meter persegi. Kompleks candi ini memiliki dua halaman dan dibatasi dua pagar keliling. Di dalam halaman tengah terdapat dua gundukan tanah berukuran besar dengan posisi sejajar ke arah timur-barat. Gundukan tanah di sebelah timur berukuran 20 x 20 meter (Menapo 1). Sementara, gundukan tanah di sebelah timurnya berukuran lebih kecil (Menapo 2), yaitu 15 x 15 meter dengan tinggi 1,5-1, 8 meter.

Dr. Retno Purwanti menjelaskan sisi struktur menapo yang telah di ekskavasi (Dok. tempo.com)

 

Di sebelah utara Menapo 1 terdapat gundukan tanah kecil (Menapo 3) berukuran 7 x 7 meter dan tinggi 1,5 meter. Di sebelah selatan Menapo 2 terdapat gundukan tanah berbentuk segi empat berukuran sekitar 16 x 8 meter dan tinggi 0,5 meter (Menapo 4).

Hingga Kamis kemarin telah dibuka 7 kotak ekskavasi tersebar di sudut barat daya sebanyak 2 kotak, di sudut barat laut satu kotak berada pada Menapo 1. Di Menapo 2 dibuka 2 kotak ekskavasi di sisi timur laut dan tenggara; 2 kotak pada Menapo 3 dan satu kotak pada Menapo 5 yang terletak di sudut halaman utama. Hasil penggalian tanah pada ke-7 kotak ekskavasi berhasil memperlihatkan adanya struktur bangunan bata berdenah bujursangkar berukuran 3 x 3 meter pada Menapo 3 dengan pintu masuk berada di timur.

Pada Menapo 1 baru menemukan bagian luar dinding bangunan sehingga belum dapat diketahui bentuk denahnya. Sementara itu, pada Menapo 2 telah ditemukan bagian dinding luar bangunan di sisi selatan dan penampil pada sisi timur laut sehingga dapat diketahui, bahwa pintu masuk tidak berada di tengah dinding bagian timur.

Pada Menapo 4 ditemukan 363 pecahan genting dari tanah liat dan keramik berglasir hijau. Sejumlah pecahan memperlihatkan adanya pengait dan lubang. Penggalian tanah pada Menapo 4 ini menemukan 979 pecahan genting dan beberapa diantaranya berglasir hijau. Pada sisi barat ditemukan struktur bata intak sebanyak 4 lapis.

Temuan pecahan genting hasil ekskavasi (Dok. Retno Purwanti)

Selain temuan struktur bangunan bata, ditemukan juga pecahan-pecahan keramik Cina dari masa Dinasti Tang dan Sung (abad 10-12 Masehi) dan paku. Sampai saat ini belum ditemukan artefak-artefak keagamaan, baik berupa arca maupun artefak pendukung lainnya.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, tim menghasilkan kesimpulan sementara bahwa candi ini tidak difungsikan sebagai tempat peribadatan atau wihara. Akan tetapi, difungsikan sebagai tempat belajar-mengajar. Kesimpulan sementara ini diperkuat dari belum ditemukannya altar sebagai tempat persembahyangan dalam tradisi Buddhisme. 

Tampaknya penelitian ini juga menyokong pendapat yang lalu-lalu bahwa negeri Moloyeu yang pernah dikunjungi pendeta I-Tsing untuk belajar agama terletak di wilayah Jambi.